Metrum.ID_Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, eksistensi lagu-lagu lawas Manggarai (read: Nenggo) kini menghadapi ancaman yang nyata. Musik populer, baik yang berasal dari tanah air dengan bahasa Indonesia maupun dari luar negeri, begitu masif dan sporadis menyusup ke ruang-ruang hiburan masyarakat. Fenomena ini bukan sekadar soal selera, tetapi juga menyentuh ranah identitas budaya yang perlahan-lahan tergeser.
Banyak anak muda Manggarai kini tumbuh tanpa memiliki wawasan mendalam tentang lagu-lagu tradisi. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang tidak tahu atau tidak mampu membawakan satu pun lagu lawas Manggarai. Di balik fakta ini, tersimpan kegelisahan: mungkinkah generasi penerus kehilangan salah satu harta kultural yang seharusnya diwariskan?
Ironisnya, lagu-lagu lawas justru bertahan lebih kuat di kampung-kampung dan pedalaman Manggarai. Di sana, lagu bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebersamaan. Orang-orang tua masih dengan fasih melantunkan syair penuh makna itu, seakan menjadi pengingat bahwa musik tradisi adalah napas kehidupan.
Di desa-desa, pesta syukuran, pernikahan, atau acara adat tidak akan lengkap tanpa lagu lawas. Standar euforia seremonial di kampung masih bertumpu pada kelihaian mengenal sekaligus menguasai lagu-lagu tersebut. Dalam suasana demikian, sebuah pesta akan dianggap lebih hidup ketika para tamu, lintas generasi, bersenandung bersama.
Lagu lawas Manggarai bukan hanya suara; ia adalah narasi tentang cinta, kerinduan, tanah kelahiran, hingga doa kepada Sang Pencipta. Setiap baitnya menyimpan nilai filosofis yang tidak ditemukan dalam musik populer modern. Namun, nilai itu kini terancam hilang bila tidak lagi diwariskan.
Kehadiran musik populer memang tidak bisa dipungkiri. Ia menawarkan sesuatu yang instan, mudah dinikmati, dan cepat tersebar melalui media sosial maupun platform digital. Sementara lagu lawas Manggarai membutuhkan ruang yang lebih intim: sebuah panggung sederhana, sebuah pesta kampung, atau pertemuan keluarga di beranda rumah.
Di titik inilah tantangan terbesar hadir. Bagaimana menjaga agar lagu lawas tidak hanya bertahan di pedalaman, tetapi juga relevan di hati generasi muda? Pertanyaan ini seakan mengetuk kesadaran kita semua bahwa budaya tidak bisa dibiarkan hidup sendiri—ia butuh upaya bersama.
Mungkin, langkah awal bisa dimulai dengan memperkenalkan lagu-lagu tersebut di sekolah-sekolah, mengabadikannya lewat rekaman digital, atau menghadirkannya kembali dalam format yang dekat dengan telinga anak muda. Yang terpenting, jangan sampai lagu lawas Manggarai hanya menjadi kenangan yang tersimpan di ingatan orang-orang tua di kampung.
Karena sejatinya, ketika sebuah lagu lawas dinyanyikan, yang hidup bukan hanya suara, melainkan sejarah, kebersamaan, dan identitas Manggarai itu sendiri.
Banyak anak muda Manggarai kini tumbuh tanpa memiliki wawasan mendalam tentang lagu-lagu tradisi. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang tidak tahu atau tidak mampu membawakan satu pun lagu lawas Manggarai, seperti nenggo. Di balik fakta ini, tersimpan kegelisahan: mungkinkah generasi penerus kehilangan salah satu harta kultural yang seharusnya diwariskan?
Ironisnya, lagu-lagu lawas justru bertahan lebih kuat di kampung-kampung dan pedalaman Manggarai. Di sana, lagu bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebersamaan. Orang-orang tua masih dengan fasih melantunkan syair penuh makna itu, seakan menjadi pengingat bahwa musik tradisi adalah napas kehidupan.
Di desa-desa, pesta syukuran, atau acara adat tidak akan lengkap tanpa lagu lawas. Standar euforia seremonial di kampung masih bertumpu pada kelihaian mengenal sekaligus menguasai lagu-lagu tersebut. Dalam suasana demikian, sebuah pesta akan dianggap lebih hidup ketika para tamu, lintas generasi, bersenandung bersama. hal ini bukan berarti menafikan eksistensi lagu-lagu populer yang berkembang sekarang. Tetapi Lagu lawas Manggarai bukan hanya suara; ia adalah narasi tentang cinta, kerinduan, tanah kelahiran, hingga doa kepada Sang Pencipta. Setiap baitnya menyimpan nilai filosofis yang tidak ditemukan dalam musik populer modern. Namun, nilai itu kini terancam hilang bila tidak lagi diwariskan.
Kehadiran musik populer memang tidak bisa dipungkiri. Ia menawarkan sesuatu yang instan, mudah dinikmati, dan cepat tersebar melalui media sosial maupun platform digital. Sementara lagu lawas Manggarai membutuhkan ruang yang lebih intim: sebuah panggung sederhana, sebuah pesta kampung, atau pertemuan keluarga di beranda rumah.
Di titik inilah tantangan terbesar hadir. Bagaimana menjaga agar lagu lawas tidak hanya bertahan di pedalaman, tetapi juga relevan di hati generasi muda? Pertanyaan ini seakan mengetuk kesadaran kita semua bahwa budaya tidak bisa dibiarkan hidup sendiri—ia butuh upaya bersama.
Mungkin, langkah awal bisa dimulai dengan memperkenalkan lagu-lagu tersebut di sekolah-sekolah, mengabadikannya lewat rekaman digital, atau menghadirkannya kembali dalam format yang dekat dengan telinga anak muda. Yang terpenting, jangan sampai lagu lawas Manggarai hanya menjadi kenangan yang tersimpan di ingatan orang-orang tua di kampung.
Karena sejatinya, ketika sebuah lagu lawas dinyanyikan, yang hidup bukan hanya suara, melainkan sejarah, kebersamaan, dan identitas Manggarai itu sendiri.












