NASIONAL

22 Tahun FMN: Melawan Ejakulasi Dini Kekuasaan di Atas Meja Perjuangan

×

22 Tahun FMN: Melawan Ejakulasi Dini Kekuasaan di Atas Meja Perjuangan

Sebarkan artikel ini
Memperingati Hari Lahir Front Mahasiswa Nasional Ke-22 Tahun di Taman Nostalgia Kota Kupang NTT (Metrum.id / M Izhul).
Memperingati Hari Lahir Front Mahasiswa Nasional Ke-22 Tahun di Taman Nostalgia Kota Kupang NTT (Metrum.id / M Izhul).

METRUM.IDFront Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang merayakan hari lahirnya yang ke-22 di Taman Nostalgia, Kota Kupang, NTT, pada Minggu (18/5). Momentum ini menjadi ajang refleksi atas perjalanan panjang FMN sebagai organisasi massa pemuda mahasiswa yang militan, patriotik, demokratis, dan modern, yang sejak 18 Mei 2003 terus berdiri di garda terdepan memperjuangkan hak-hak rakyat, khususnya klas buruh dan kaum tani sebagai fondasi perjuangan demokratis nasional.

Sekitar 90 peserta turut hadir, termasuk perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) se-Kota Kupang, kaum tani, anggota AGRA wilayah NTT, serta sejumlah awak media. Acara ini menggambarkan kesungguhan FMN dalam memperkuat solidaritas dan memperluas jejaring perjuangan di kalangan pemuda mahasiswa.

Ketua Umum FMN Kupang: Bukan Ajang Euforia, tapi Refleksi Perjuangan

Ketua Umum FMN Cabang Kupang, Valentino, dalam sambutannya menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar ajang seremonial, tetapi momentum untuk menegaskan kembali prinsip dasar perjuangan organisasi. “Momentum hari lahir FMN ini bukan sebagai ajang euforia atau mencari panggung popularitas, tetapi sebagai refleksi panjang untuk gerakan organisasi ini. Dan juga sebagai semangat untuk tetap melakukan perjuangan bersama klas pokok, yakni kaum tani, klas buruh, dan sektor lainnya,” ujarnya dengan penuh semangat.

Menurutnya, FMN tidak hanya berdiri sebagai wadah aspirasi, tetapi juga sebagai corong pergerakan yang memperkokoh kesadaran kritis di kalangan pemuda mahasiswa. Dengan karakter yang militan, patriotik, demokratis, dan modern, FMN bertekad untuk terus memperjuangkan pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan berpihak pada rakyat – sebuah visi yang menjadi napas perjuangan sejak awal berdiri.

Tiga Musuh Rakyat dan Seni Perlawanan

Selain sambutan, rangkaian acara juga diisi dengan penampilan seni yang menggugah, seperti teaterikal bertema “Tiga Musuh Rakyat” – Imperialisme, Feodalisme, dan Kapitalis Birokrat – yang diperagakan oleh anggota FMN. Penampilan ini menjadi pengingat akan tiga kekuatan utama yang terus menghambat kemajuan rakyat dan memperdalam kesenjangan sosial. Selain itu, puisi-puisi perjuangan dan lagu-lagu progresif turut membakar semangat para peserta, menegaskan bahwa seni adalah senjata ampuh dalam menyuarakan perlawanan.

Refleksi Panitia: Mengokohkan Identitas Perjuangan

Dalam wawancara dengan metrum.id, ketua panitia peringatan hari lahir FMN ke-22 menegaskan pentingnya momen ini sebagai titik refleksi untuk memperkuat kesadaran kritis di kalangan pemuda mahasiswa. “FMN lahir dari semangat untuk membangun kesadaran kritis di kalangan pemuda mahasiswa, memperjuangkan pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan berpihak pada rakyat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sejak awal berdiri, FMN telah meneguhkan identitasnya sebagai organisasi berkarakter militan, patriotik, demokratis, dan modern. Karakter inilah yang menjadikan FMN tak hanya sebagai wadah aspirasi, tetapi juga sebagai corong yang memperkokoh gerakan demokratis di kalangan pemuda mahasiswa.

Tekad untuk Terus Berjuang

Di usianya yang ke-22, FMN bertekad untuk terus menjadi garda terdepan dalam perjuangan rakyat, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan semangat perubahan di kalangan generasi muda. “Perjuangan ini belum berakhir, dan kami akan terus bergerak bersama rakyat,” pungkasnya, menutup wawancara dengan optimisme yang membara.

Dengan semangat ini, FMN tak hanya merayakan usia, tetapi juga memperbaharui tekad untuk terus berjuang di garis depan perubahan sosial, menguatkan fondasi pendidikan yang berakar pada kebutuhan rakyat, serta memperluas pengaruh di kalangan pemuda mahasiswa.***