TASIKMALAYA – Komite Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) merawat ingatan kolektif warisan leluhur melalui kegiatan Gentra Loka Vol 6, Ngariksa Kabuyutan yang berlangsung di Gunung Kabuyutan, Situs Lingga Yoni, Indihiang, Kota Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta dari lintas generasi dan komunitas ini mengusung misi edukasi sejarah, konservasi budaya, dan lingkungan. Bahkan, terdapat peserta yang datang jauh-jauh dari Kota Bandung, Sumedang, dan Garut untuk mengikuti acara ini.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi kirab/lalampahan awal menuju portal utama situs dengan diiringi musik tradisi dogdog dan angklung dari sanggar seni Ruas Katresna, disambut dengan penyematan geulang tridatu kepada seluruh peserta sebagai penanda kebersamaan dan simpul spiritual. Sebelum memasuki area situs, peserta melakukan terlebih dahulu prosesi susuci di sumber air Cikahuripan yang ada di lokasi situs. Acara kemudian dibuka secara khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disambung penjelasan latar belakang program Gentra Loka.
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus seniman Tasikmalaya, Nisa Fitriyani, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen yang hadir.
“Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada seluruh peserta. Ngariksa Kabuyutan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan panggilan nurani untuk merawat ingatan sejarah dan mempertautkan kembali keterikatan manusia dengan akar budayanya,” ujarnya.
Nisa menyebut, kegiatan ini merupakan penegasan komitmen generasi muda dalam menjaga kelestarian situs bersejarah.
“Kehadiran lintas generasi di sini adalah bukti bahwa api kesadaran menjaga warisan leluhur masih menyala terang di Kota Tasikmalaya, sekaligus menjadi penegas komitmen kita bersama dalam menjaga kekhusyukan dan kelestarian kawasan Situs Lingga Yoni Indihiang,” tegas Nisa.
Sebagai bentuk penajaman edukasi, Juru Pelihara situs di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Barat, Henli, memberikan pemaparan historis dan filosofis mengenai nilai penting cagar budaya tersebut. Dalam penjelasannya, Henli menyampaikan bahwa simbolisme lingga dan yoni merupakan penyatuan dua energi kehidupan, keselarasan antara maskulinitas dan femininitas, penciptaan, serta kesuburan alam yang harus dijaga keseimbangannya.
Kehidmatan semakin terasa saat panjatan Rajah Buana Larang yang yang diiringi kacapi suling serta prosesi kontemplasi (ngahening) bersama Arini D. Jayanti dilakukan.
Prosesi Ngabiséka (susuci situs) kemudian dilakukan dengan melibatkan seluruh peserta yang turut mensucikan dan memercikkan air ke batu lingga yoni, sebagai laku simbolik membersihkan peradaban masa kini dari berbagai keburukan serta upaya manusia menegakan kebaikan.
Acara dilanjutkan dengan ngalarung sasajén yang juga melibatkan seluruh peserta sebagai lambang ungkapan rasa syukur atas segala berkah yang telah diberikan Tuhan. Berbagai jenis bunga yang ditaburkan juga asap dupa yang meninggi di area situs menjadi simbol untuk terus saling mengasihi dan memberikan wewangi pada ruang kehidupan.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan aksi nyata konservasi lingkungan berupa penanaman puluhan bibit pohon (melak tangkal) dan aksi bakti lingkungan (bebersih) Menariknya, para peserta juga berinisiatif membawa bibit sendiri untuk ditanam di sekitar area situs sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian alam.
Langkah ini menjadi penegas komitmen DKKT dalam menjaga situs sejarah dan kelestarian hutan yang tidak hanya berhenti pada selebrasi, tetapi mewujud dalam aksi pemeliharaan yang berkelanjutan.
Ketua Komite Budaya DKKT, Cevi Whiesa, menyebut Gentra Loka akan terus hadir setiap bulannya dengan berbagai kegiatan dengan tujuan menghadirkan ruang publik yang bermuatan edukasi seni budaya.
“Sekemampuan kami di DKKT akan terus hadir di tengah-tengah masyarakat, karena Kota Tasikmalaya perlu ruang publik yang masif, yang bisa menjadi ruang ekspresi,” ujar Cevi.
Di minggu yang sama DKKT telah sukses menggelar Kibar Budaya 2026 dengan misi mengangkat kembali anyaman bambu di Situ Beet, Mangkubumi. ***










