METRUM.ID – Ikatan Mahasiswa Pelajar Satar Mese (IMPS) Kupang gelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Kamis, 30 April 2026, di Mozza Cafe and Gallery, Kupang. Kegiatan ini merupakan Vol. III dari seri Kajian Isu Strategis yang dikepalai oleh Ronal Suwardi, salah satu bidang di organisasi (IMPS) Kupang.
Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (2026) disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono, jurnalis senior yang dikenal kritis terhadap isu hak asasi manusia, bersama Cypri Paju Dale, antropolog dan peneliti lulusan Universitas Bern yang kajiannya berfokus pada kolonialisme di Papua. Film ini diproduksi atas kolaborasi Watchdoc, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.
Film ini mengambil latar di tiga kabupaten di wilayah selatan Papua: Merauke, Boven Digoel, dan Mappi kawasan yang kini menghadapi ancaman pembukaan hutan hingga 2,5 juta hektare untuk proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu atas nama ketahanan pangan dan transisi energi. Para sutradara menyebut rencana ini sebagai deforestasi terencana terbesar dalam sejarah dunia.
Gagasan film berakar pada pidato Sukarno dalam Konferensi Asia Afrika yang mempertanyakan klaim berakhirnya kolonialisme selama masih ada bangsa yang belum merdeka. Film dibuka dengan visual yang kuat: masyarakat adat Suku Awyu memanggul batang kayu besar yang ditancapkan sebagai simbol Salib Merah di Distrik Fofi, Kabupaten Boven Digoel simbol perlawanan kolektif dalam mempertahankan tanah adat.
Pre-launching film ini telah digelar di berbagai daerah di Tanah Papua, Selandia Baru, dan Australia sejak Maret 2026, sebelum menyebar ke Bandung, Yogyakarta, Ruteng, Banjarmasin, dan kini Kupang.
Pembangunan sebagai “Agama Sekular”
Diskusi berlangsung dengan penuh dialektika, dipandu moderator Arkadius Jomario. Pemantik diskusi, Ernestus Holivil, S.Fil., MPA, mengkritik paradigma developmentalisme yang menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tolok ukur utama kemajuan. Menurutnya, paradigma ini telah berubah menjadi semacam “agama sekular” yang menuntut ketaatan absolut dari warga negara.
Ia menegaskan bahwa Papua bukanlah ruang kosong yang bebas diisi proyek negara dan investor. Yang dibutuhkan masyarakatnya bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan kualitas hidup, kedaulatan atas tanah adat, serta keberlanjutan ruang hidup lokal. Ernestus juga menyoroti bagaimana ekspansi pembangunan di Papua melibatkan jaringan investor, korporasi, hingga sebagian tokoh agama dan gereja sebuah kolaborasi dominasi yang memperlemah kepercayaan publik terhadap negara.
Di sisi lain, ia mengapresiasi kekuatan film ini sebagai alat advokasi publik yang efektif di era digital, meski mencatat bahwa film belum cukup menampilkan aktor-aktor lokal yang terkooptasi negara.
Pesta Babi: Simbol Budaya Sekaligus Perlawanan Politik
Salah satu poin menarik dalam diskusi adalah pembacaan terhadap tradisi Pesta Babi atau Awon Atatbon yang digelar oleh masyarakat adat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu. Pada level kultural, tradisi ini merupakan ekspresi solidaritas, syukuran, dan perayaan bersama yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam. Pada level politis, Pesta Babi dibaca sebagai simbol perlawanan ekspresi identitas kolektif masyarakat adat yang menolak narasi pembangunan yang dipaksakan dari atas.
Suasana diskusi hidup dan penuh dialektika. Kegiatan ini berhasil mengaktifkan kesadaran mahasiswa terhadap isu keadilan sosial dan ekologis yang masih berlangsung di wilayah timur Indonesia.
Pesan Penutup
Menutup rangkaian kegiatan, Ketua (IMPS) Kupang, Handrianus Sudirman, menyampaikan pesan yang tegas kepada seluruh peserta: “Kita sebagai mahasiswa harus mampu mengkritis setiap fenomena yang terjadi di republik ini.”
Kegiatan nobar dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang digagas (IMPS) Kupang ini membuktikan bahwa mahasiswa di Nusa Tenggara Timur turut hadir dalam percakapan besar tentang keadilan, kedaulatan, dan masa depan masyarakat adat di republik ini.
Diliput oleh: Vicky Dato












