lBANDUNG – Eksistensi Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak lepas dari peran aktif para kadernya di berbagai tingkatan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, paiskal Iskandar, seorang kader yang telah aktif sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), membagikan wawasannya untuk mengenal jenjang organisasi otonom (Ortom) di lingkungan Muhammadiyah.
Struktur Berjenjang bagi Generasi Muda
Menurut paiskal, Muhammadiyah memiliki wadah yang spesifik bagi setiap kelompok usia dan status sosial. Bagi kalangan pelajar, terdapat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang menaungi siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
Memasuki dunia perkuliahan, peran tersebut berlanjut dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Setelah menyelesaikan masa studi di perguruan tinggi, para kader pria dapat bergabung dengan Pemuda Muhammadiyah.
Kokam: ‘Tentara’ Muhammadiyah yang Humanis
Salah satu poin menarik dalam wawancara tersebut adalah pembahasan mengenai Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Sering kali terlihat mengenakan seragam loreng, Kokam kerap menjelma sebagai “tentaranya Muhammadiyah”.
Paiskal menjelaskan bahwa meski memiliki pelatihan fisik layaknya personel keamanan, Kokam memiliki pendekatan yang berbeda dengan militer pada umumnya.
“Di Kokam itu kita mengenal tentang tauhid, itu yang paling utama. Kemudian ketahanan fisik agar kuat, karena muslim yang kuat lebih baik daripada muslim yang lemah,” ujar Paiskal.
Pesan untuk Kader Muda
Menutup sesi wawancara, Paiskal memberikan motivasi bagi generasi muda Muhammadiyah yang belum aktif berorganisasi. Ia mengutip pesan legendaris dari pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” pungkasnya, menekankan pentingnya pengabdian yang tulus dalam berorganisasi.












