HIBURAN

Perayaan Kemerdekaan Ala Moza Cafe: Lomba Tradisional, Malam Gebyar dan Ruang Solidaritas

×

Perayaan Kemerdekaan Ala Moza Cafe: Lomba Tradisional, Malam Gebyar dan Ruang Solidaritas

Sebarkan artikel ini
Suasana hangat Malam Gebyar di Moza Cafe & Galeri yang dipenuhi tawa, musik, dan keceriaan warga serta mahasiswa.
Suasana hangat Malam Gebyar di Moza Cafe & Galeri yang dipenuhi tawa, musik, dan keceriaan warga serta mahasiswa.

METRUM.ID – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia diwarnai semangat berbeda di kawasan belakang Kampus Undana. Moza Cafe & Galeri, yang berlokasi di Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, bersama warga RT setempat menggelar perlombaan pada 15–16 Agustus 2025. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan keceriaan, tetapi juga menjadi ruang kritis bagi generasi muda untuk merawat solidaritas di tengah derasnya arus globalisasi.

Ketua panitia kegiatan, Margareta Yeyen Tania Serena Kasim, mahasiswa semester 9 Program Studi Bahasa Indonesia Undana, menegaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar hiburan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan di zaman sekarang bukan lagi soal perang atau kekerasan, melainkan bagaimana kita bisa menjaga kebersamaan, kekompakan, dan saling mendukung. Walaupun pesertanya anak-anak RT, banyak mahasiswa dari luar yang ikut hadir. Itu membuktikan bahwa semangat kebersamaan bisa melampaui batas administratif,” ujarnya.

Margareta juga menekankan bahwa kegiatan ini mempertemukan berbagai latar belakang budaya.

“Ada teman-teman dari Manggarai, Sumba, Solor, dan beberapa daerah lain di NTT. Walau berbeda asal, bahasa, dan budaya, kami dipersatukan oleh satu niat: mempererat persaudaraan dan merayakan kemerdekaan dengan cara kami sendiri,” tambahnya.

Dalam dua hari pelaksanaan, panitia menghadirkan sejumlah lomba tradisional yang menguji kekompakan dan kreativitas peserta. Mata lomba yang dipertandingkan antara lain suit kardus, lomba gigit sendok, sarung berantai, serta memasukkan paku ke dalam botol. Perlombaan diikuti oleh mahasiswa dan warga sekitar. Sementara itu, pada Malam Gebyar tercatat sekitar 50 orang hadir untuk menikmati penampilan seni dan penyerahan hadiah.

Sementara itu, Frans Tio Keban, selaku owner Moza Cafe & Galeri sekaligus Ketua RT, menilai acara ini sebagai wujud nyata kolaborasi lintas generasi. Mayoritas peserta berasal dari Gen Z dan milenial yang tinggal di kos-kosan sekitar kampus.

“Permainan ini terlihat sederhana, tapi justru di situlah pesan pentingnya: kebersamaan, sportivitas, dan saling mengenal satu sama lain. Kami ingin menunjukkan bahwa nilai kemerdekaan juga bisa ditumbuhkan melalui hal-hal kecil yang mendekatkan orang. Karena itu, kegiatan ini kami jadikan agenda tahunan di Moza. Bahkan setiap tahun, khususnya di acara seperti ini, selalu ada promosi menu-menu baru dari Moza Cafe & Galeri untuk diperkenalkan kepada peserta yang hadir,” jelasnya.

Tidak berhenti di perlombaan, panitia juga menyelipkan agenda sosial berupa kunjungan ke panti asuhan. Menurut Tio, hal ini sejalan dengan empat misi Moza Cafe & Galeri, yakni kepemudaan, pendidikan, sosial, dan lingkungan.

“Anak muda belajar kepemimpinan, kerja sama tim, dan kreativitas. Bahkan ada ruang ekspresi seperti musik, atau diskusi. Jadi, Moza bukan hanya kafe, tetapi juga ruang tumbuh bersama,” katanya.

Acara puncak pada 16 Agustus malam ditutup dengan Malam Gebyar, yang menampilkan seni tari, live music, serta penyerahan hadiah bagi para juara lomba. Suasana malam kebersamaan tersebut menjadi momentum refleksi menjelang 17 Agustus, menegaskan bahwa kegiatan sederhana bisa menjadi wadah persatuan lintas budaya dan generasi.

Tio berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut.

“Kalau terbukti memberi dampak positif, kami akan jadikan program tahunan. Selain mempererat persaudaraan, kegiatan ini juga menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap individualisme yang semakin kuat di era modern,” pungkasnya.