HIBURAN

Perayaan Yang Tidak Biasa

×

Perayaan Yang Tidak Biasa

Sebarkan artikel ini

Fajar di tanggal dua puluh Maret menyingsing dengan cara yang tidak biasa bagi Ilham. Di saat sebagian besar penduduk di Kampung Kerenceng masih terlelap untuk menyiapkan tenaga demi hari-hari terakhir puasa, Ilham sudah terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Hari itu adalah Idul Fitri baginya. Namun, alih-alih disambut dengan gema takbir yang bersahutan dari pengeras suara masjid, ia justru disambut oleh kesunyian pagi yang beku.

Suasana di dalam rumahnya terasa sangat asing. Biasanya, Lebaran identik dengan riuh rendah suara sanak saudara, denting piring porselen yang beradu dengan sendok, serta aroma kuah opor yang kental memenuhi seisi ruangan. Kini, semua itu absen. Meja makan tampak lengang tanpa tumpukan toples nastar atau kastengel yang menjadi primadona. Perbedaan metode dalam menentukan 1 Syawal tahun ini benar-benar menciptakan sekat yang nyata antara keyakinan keluarganya dan lingkungan sekitar. Tawa yang biasanya pecah saat momen sungkeman pun seolah menguap, digantikan oleh hening yang merayap hingga ke sudut-sudut plafon.

Di luar jendela, kehidupan berjalan seperti hari-hari Ramadan biasa. Para tetangga masih sibuk dengan aktivitas ibadah mereka, menahan dahaga di bawah terik matahari, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam rumah kayu itu, seseorang sedang merayakan kemenangan sendirian. Ada rasa hampa yang menyelinap di hati Ilham saat melihat gang di depan rumahnya sepi dari hiruk-pikuk anak-anak berbaju baru.

Untuk mengusir rasa sunyi yang mulai menyesakkan, Ilham akhirnya memutuskan untuk mencari pelarian ke dunia digital. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel, memacu adrenalin melalui berbagai pertandingan game daring. Suara tembakan dan obrolan kasar dari rekan satu tim di server menjadi satu-satunya kebisingan yang bisa ia nikmati hari itu.

Namun, Ilham tetaplah Ilham yang punya sisi jahil. Rasa bosan itu kemudian berubah menjadi ide untuk sedikit “menyiksa” teman-temannya. Ia mulai melakukan panggilan video satu per satu kepada sahabat dekatnya yang ia tahu pasti masih berpuasa dengan sisa-sisa tenaga.

Sambil duduk santai dengan segelas sirup dingin yang nampak segar dan stoples berisi biskuit di tangan, ia menyapa mereka dengan wajah tanpa dosa. Ia sengaja memamerkan setiap suapan makanannya ke depan kamera, sengaja membunyikan renyahnya kunyahan biskuit itu di telinga teman-temannya yang sedang menanti azan Magrib dengan tidak sabar. Meskipun tujuannya hanya untuk menggoda, aksi itu sebenarnya adalah caranya untuk mencari pengakuan bahwa hari ini, meskipun sunyi dan unik, ia sedang merayakan hari kemenangannya.

Penulis: Ilham NurfajarEditor: Ilham Nurfajar