REGIONAL

Sony Yohanis Cetak Brace, Lebalewuk FC Kunci Juara Grup A dengan Skor 4-1

×

Sony Yohanis Cetak Brace, Lebalewuk FC Kunci Juara Grup A dengan Skor 4-1

Sebarkan artikel ini
Suasana laga antara Lebalewuk FC melawan Waiburak Raya di Stadion Apebuan Cup (Metrum id/M Izhul).

METRUM.IDLebalewuk FC menutup fase grup dengan kemenangan meyakinkan setelah mengalahkan Waiburak Raya 4-1 di Stadion Apebuan Suku Tokan, Sabtu (2/8/2025). Hasil ini memastikan The Black Panther keluar sebagai juara Grup A dengan koleksi tujuh poin sekaligus melangkah ke babak 32 besar dengan penuh kepercayaan diri.

Kemenangan ini bukan sekadar hasil skor besar, tetapi juga gambaran kedewasaan tim dalam menghadapi tekanan. Sempat tertinggal lewat gol bunuh diri, Lebalewuk menunjukkan reaksi cepat melalui kerja sama kolektif. Sony Yohanis (22), yang dikenal dengan julukan “Striker Tarkam” asal PS Angkasa Kota Kupang, menjadi bintang dengan dua gol. Aldony (7), sang legend striker Flores Timur, menambah satu gol dan menunjukkan bahwa pengalaman masih menjadi faktor penting. Di sisi lain, sentuhan taktik Baharudin Samiun sebagai pelatih kepala membuat tim ini tetap stabil di bawah tekanan.

Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak awal. Stadion Apebuan yang dipadati pendukung Lebalewuk menjadi saksi saat situasi tak terduga terjadi. Akmal (2), yang sepanjang turnamen tampil disiplin, justru melakukan antisipasi keliru saat mencoba menghalau bola. Bola malah masuk ke gawang sendiri, membuat Waiburak Raya unggul lebih dulu.

Suasana sempat hening sejenak. Gol bunuh diri ini bisa saja memukul mental tim, tetapi justru menjadi titik balik. Sorakan suporter semakin keras, memberi sinyal dukungan penuh. Baharudin di tepi lapangan langsung memberikan instruksi agar tim menjaga fokus. Respon cepat datang. Abdul (12) menusuk di sisi kiri, mengirim umpan silang rendah yang disambar keras oleh Asdam (13). Skor 1-1 membuat tensi turun dan mengembalikan ritme permainan ke tangan Lebalewuk.

Setelah gol penyama, Lebalewuk bermain lebih terorganisir. Onel (10) mengambil peran penting sebagai pengatur serangan. Dari kakinya lahir umpan silang terukur yang disambut sundulan presisi Sony Yohanis (22).

Sony, dengan julukan “Striker Tarkam”, membuktikan bahwa reputasinya di lapangan antar kampung bukan sekadar cerita. Pemain asal PS Angkasa Kota Kupang ini memperlihatkan naluri predator kotak penalti. Gol keduanya kembali menegaskan kualitas itu. Kali ini, ia menerima crossing Alvian dari sisi kanan dan menuntaskannya dengan finishing tenang. Dua gol Sony memberi bukti bahwa ketajamannya bisa menjadi senjata utama Lebalewuk di fase berikutnya.

Di tengah generasi muda yang penuh energi, Lebalewuk memiliki sosok senior yang membawa pengalaman: Aldony (7). Mantan striker andalan Flores Timur ini dikenal sebagai legend hidup di eranya. Meski tidak lagi muda, insting golnya tetap terjaga.

Gol keempat lahir dari kombinasi rapi. Onel (10) kembali jadi kreator dengan umpan matang ke kotak penalti. Aldony menuntaskan peluang itu dengan ketenangan khas striker berpengalaman. Gol ini bukan hanya menutup skor menjadi 4-1, tetapi juga membuktikan bahwa aura senioritas di lini depan masih sangat berpengaruh. Selain golnya, peran Aldony dalam memberi arahan ke lini depan sepanjang laga juga terlihat jelas.

Sementara lini depan sibuk mencetak gol, lini belakang juga bekerja keras. Erik (18) tampil luar biasa sebagai libero. Hampir semua upaya Waiburak Raya menembus kotak penalti gagal karena pembacaan posisinya yang tepat.

Erik tidak hanya menghentikan serangan, tetapi juga menjaga keseimbangan tim. Setiap intersep darinya langsung diubah menjadi transisi serangan cepat melalui Onel (10). Perannya memastikan Lebalewuk tidak goyah meski sempat kebobolan di awal.

Usai peluit panjang dibunyikan, awak media Metrum.id langsung menemukan pelatih kepala Baharudin Samiun untuk wawancara eksklusif. Pelatih dengan segudang pengalaman sepak bola daerah ini menegaskan bahwa kemenangan ini lahir dari kerja sama, bukan individu.

“Kami sempat kebobolan, tapi anak-anak cepat saling dukung. Tidak ada yang saling menyalahkan. Gol-gol ini bukan milik Sony (22) atau Aldony (7) saja, tapi seluruh pemain. Erik (18) menjaga pertahanan, Onel (10) mengatur serangan, Abdul (12) dan Asdam (13) kerja keras di sisi kiri. Semua terlibat,” ujar Baharudin kepada Metrum.id.

Bahas juga menambahkan pentingnya keseimbangan antara pengalaman dan energi muda dalam tim.

“Sony (22) memberi energi baru, sementara Aldony (7) membawa pengalaman luar biasa. Kombinasi itu membuat tim ini punya banyak opsi,” lanjutnya.

Aldony yang mencetak gol penutup juga memberikan pernyataan serupa.

“Gol saya cuma penyelesaian akhir. Semua karena kerja sama tim. Onel (10) kasih umpan, pemain lain buka ruang, lini belakang bikin kami tenang. Kemenangan ini bukan tentang saya atau Sony (22), tapi hasil kerja semua pemain,” ujarnya dengan rendah hati.

Kemenangan 4-1 ini menegaskan filosofi permainan Lebalewuk. Mereka tidak mengandalkan satu individu, tetapi sistem kolektif. Akmal (2) cepat bangkit setelah insiden gol bunuh diri, Abdul (12) aktif membuka lebar serangan, Asdam (13) menambah energi dari lini kedua, Onel (10) mengatur ritme, Erik (18) menjaga pondasi, dan Sony (22) serta Aldony (7) menuntaskan peluang.

Bahas memainkan peran besar sebagai arsitek taktik. Rotasi dan instruksi yang tepat membuat tim mampu mengontrol tempo setelah momen sulit. Kemenangan ini juga memperlihatkan bagaimana kombinasi generasi muda seperti Sony dengan pengalaman senior seperti Aldony menghasilkan keseimbangan ideal.

Sorakan di Stadion Apebuan menjadi faktor penting. Setelah gol bunuh diri, bukannya sunyi, tribun malah semakin keras mendukung. Atmosfer itu membuat mental pemain cepat pulih dan kembali fokus. Kemenangan ini membuktikan bahwa Lebalewuk memiliki hubungan erat antara tim dan publik pendukungnya.

Dengan tujuh poin, Lebalewuk FC menutup Grup A sebagai juara. Namun Baharudin sadar, tantangan di babak 32 besar akan lebih berat. Evaluasi akan fokus pada menjaga komunikasi antar pemain, memperkuat transisi, dan meningkatkan konsistensi permainan.

“Babak 32 besar tidak memberi ruang untuk kesalahan. Kami akan terus latih kolektivitas ini. Kalau semua pemain tetap main seperti satu kesatuan, saya yakin kami bisa bersaing,” tutup Baharudin kepada Metrum.id. ***