KOLOM

Sore Yang Tertinggal di Pantai

×

Sore Yang Tertinggal di Pantai

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sandryaka Harmin

Aku selalu menyukai penugasan lapangan. Ada sesuatu yang jujur dari perjalanan jauh, dari debu jalanan, dari kopi warung yang terlalu manis. Ketika ketua redaksi memanggil kami dan menyebut sebuah pantai di selatan Jawa yang sedang naik daun, aku mengira ini hanya liputan ringan—pariwisata, ekonomi lokal, mungkin sedikit soal pengelolaan lingkungan.

Kami berempat berangkat pagi-pagi sekali. Sepanjang perjalanan, kami membicarakan sudut pengambilan gambar, kemungkinan headline, dan bagaimana menghindari tulisan klise tentang “surga tersembunyi”. Tidak ada yang terdengar istimewa. Hanya tugas rutin.

Desa yang menjadi gerbang menuju pantai itu kecil dan tenang. Rumah-rumahnya sederhana, sebagian berdinding papan, sebagian sudah dicat warna-warna pucat. Anak-anak berlari tanpa alas kaki. Seorang ibu menjemur ikan asin di halaman. Tidak ada kesan dramatis apa pun.

Kami berjalan kaki menuju pantai.

Hamparan pasirnya luas, berpadu dengan batu karang gelap di beberapa sisi. Lautnya membentang tanpa gangguan kapal atau keramaian. Menjelang sore, cahaya matahari berubah hangat, menyapu permukaan air dengan semburat oranye yang nyaris sempurna untuk fotografi.

Rekan-rekanku langsung bekerja. Dua orang mengambil video dan foto dari berbagai sudut, satu lagi mencatat data teknis untuk infografik. Aku menyusuri pantai untuk mencari narasumber.

Di dekat garis air, aku melihat seorang pria paruh baya berdiri menghadap laut. Ia mengenakan baju lengan panjang tipis yang warnanya sulit ditebak karena pudar. Tubuhnya kurus, rambutnya tipis memutih di pelipis.

Aku menyapanya.

Ia menjawab dengan anggukan kecil.

Percakapan kami berlangsung biasa saja. Ia mengaku nelayan setempat. Ketika kutanya tentang ramainya pantai itu, ia mengatakan laut di sini memang tenang, arusnya jarang berubah drastis. Saat kusentuh soal kabar burung tentang aura mistis, ia tidak tertawa, tidak juga tersinggung.

“Orang kota sering memberi nama pada hal yang tidak mereka pahami,” katanya pelan.

Kalimat itu terasa netral, hampir seperti opini pribadi. Aku mencatatnya. Kami berbicara beberapa menit lagi, lalu aku pamit dan kembali ke tim. Mereka masih sibuk memotret senja yang semakin merendah.

Kami meninggalkan pantai sebelum gelap benar.

Malamnya, di penginapan kota terdekat, kami mulai menyusun bahan. Laptop terbuka di atas meja kayu. File dipindahkan satu per satu. Suasana santai—ada yang bercanda soal caption media sosial, ada yang memutar ulang video dengan wajah puas.

Sampai salah satu dari kami berhenti berbicara.

“Ini siapa?”

Kami mendekat ke layar.

Foto panorama pantai sore tadi memenuhi monitor. Warna langit oranye, siluet kami tampak kecil di sisi kiri. Di sisi kanan, dekat garis ombak, ada seorang pria berdiri sendirian.

Bentuk tubuhnya jelas. Bahunya sedikit membungkuk. Posisi tangannya lurus di samping badan.

“Nelayan itu,” kataku refleks.

Tiga pasang mata langsung menoleh kepadaku.

“Nelayan apa?” tanya salah satu dari mereka.

Aku menjelaskan bahwa aku sempat mewawancarai seorang pria paruh baya di pantai. Mereka saling berpandangan sebelum kembali menatapku.

“Kami enggak lihat siapa-siapa selain kita,” ujar yang memegang kamera. “Dari awal sampai pulang.”

Aku menggeleng. “Ada. Dia berdiri dekat air. Perahunya di belakangnya.”

“Perahu apa?”

Kami membuka foto lain. Satu per satu. Sudut lebar. Sudut dekat. Tidak ada perahu. Tidak ada siapa pun selain kami.

Rekan yang mengoperasikan laptop memperbesar sosok di foto pertama. Wajahnya mulai terlihat meski tertutup cahaya senja.

Dadaku terasa berat.

Itu wajah yang sama. Kerutan di pipi, tulang rahang yang tegas, garis tipis di bawah mata. Persis pria yang berbicara denganku.

“Zoom lagi,” kataku.

Resolusi diperbesar hingga pecah. Piksel-piksel kasar menyusun ulang wajahnya. Dan di situ kami melihatnya dengan jelas: matanya tidak memantulkan cahaya apa pun. Gelap, rata, seperti lubang kecil pada citra yang seharusnya hidup.

Salah satu dari kami mundur perlahan dari meja. Yang lain menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku tidak pernah lihat dia,” suara itu bergetar. “Demi apa pun, cuma kita berempat.”

Aku mencoba mengingat kembali setiap detik sore itu. Suaranya. Cara ia berdiri. Kalimatnya tentang orang kota. Semuanya terasa konkret. Tidak samar. Tidak seperti bayangan.

“Tunjukkan foto lain di menit yang sama,” kataku.

Foto berbeda, waktu pengambilan hanya selisih beberapa detik. Pantai kosong. Kami berempat tampak sedang berjalan menjauh. Di tempat yang sama—tidak ada siapa pun.

Kembali ke foto pertama.

Sosok itu masih berdiri di sana.

Kami saling menatap tanpa perlu kata-kata. Tidak ada yang berusaha menjelaskan secara teknis. Tidak ada yang menyebut gangguan lensa atau pantulan cahaya.

Salah satu dari kami berbisik pelan, hampir tak terdengar, “Itu bukan orang.”

Tidak ada yang membantah.

Aku menatap layar sekali lagi, pada wajah yang beberapa jam lalu berbicara kepadaku tentang laut. Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang tak sempat kupikirkan sebelumnya: sepanjang percakapan sore itu, tidak sekali pun kulihat bayangannya di pasir.

Ruang kamar mendadak terasa sempit. Udara seperti mengendap di paru-paru. Tidak ada yang menyentuh laptop lagi.

Kami duduk membisu mengelilingi gambar itu—empat jurnalis yang terbiasa mencari penjelasan rasional atas segala hal—kini menatap bukti yang tidak memberi ruang untuk rasionalitas.

Dan di tengah keheningan itu, kami tahu dengan pasti:

Sore tadi, salah satu dari kami berbicara dengan sesuatu yang bukan manusia.