Oleh : Orock Kappas (Seniman Tasikmalaya)
Formasi komunikasi sederhana yang dikatakan Garin Nugroho 30%, 30% dan 40%, atau yang saya singkat menjadi 3M (mempertahankan, mendeskripsikan, memandu).
Merebak dan meluasnya psikologi ketidakpuasan atas kinerja elit politik yang dinakhodai oleh Viman Alfarizi Ramadhan, Walikota Tasikmalaya, memicu terjadinya reaksi psikologi massa. Dimana dalam kurun waktu 1 tahun perlahan mencuat di berbagai sosial media juga beberapa media online yang kerap mengkritisi kinerja para elite politik di Kota Tasikmalaya.
Sebagai nakhoda yang membawa warganya berlayar, sejatinya wajib memberikan kenyamanan dan ketentraman bagi masyarakatnya. Ketika reaksi psikoligi masyarakat terombang ambing, gelisah lalu menerka-nerka tanpa sebab akibat yang memuncak. Maka yang dikhawatirkan adalah terjadinya mual-mual dan memuntahkan apa saja di mana saja dan kapan saja.
Lebih dari pada itu ketika reaksi tersebut tidak dikomunikasikan secara cepat, maka akan dimanfaatkan oleh segelintir orang atau kelompok bahkan lawan politik, hanya untuk melumpuhkan citra nakhoda, alhasil kota tercinta kita Tasikmalaya tak ubahnya ibarat bercermin pada air keruh.
Segera evaluasi apa yang terjadi, segera peka pada gejala yang muncul di muka, komunikasi adalah kunci sementara berlari sana sini hanya menguji diri sendiri.
“Selayaknya tiga puluh persen kemampuan komunikasi adalah mempertahankan kekuasaan, tigapuluh persen untuk mendeskripsikan program, dan empatpuluh persen adalah untuk memandu masyarakatnya” — mepertahankan, mendeskripsikan, memandu.
Jangan lupa media online dan sosial media tidak saja menjadi jembatan berdiplomasi, tetapi pada peran selanjutnya, bisa menjelma jembatan pengadilan, dan pembunuh karakter.
Kota Tasikmalaya, apa yang sedang terjadi dengan komunikasi para pemimpin kita?
Wahai para penguasa Kota Tasikmalaya kepada siapa masyarakat mengadu? Kepada apa dan siapa kalian memandu?
Orang tua kita sudah mengajarkan “prak pèk pok”, prak gawè, pèk bèrè, pok ngomong.












