KOLOM

Voyager I: Mendalamai Kesendirian

×

Voyager I: Mendalamai Kesendirian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Sumber: pinterest)
Ilustrasi (Sumber: pinterest)

Metrum.ID_Ada sesuatu yang memikat sekaligus menyedihkan dari cerita Voyager 1. Sebuah wahana antariksa, seukuran mobil kecil, diluncurkan dari Bumi pada musim panas tahun 1977. Awalnya, ia hanyalah misi ilmiah: mengunjungi Jupiter dan Saturnus, memotret cincin, mengukur medan magnet, lalu pulang. Tapi tak ada jalan pulang untuknya. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia justru terus melaju, meninggalkan semua yang pernah ia kenal.

Hari ini, Voyager 1 adalah objek buatan manusia yang paling jauh dari rumah. Ia sudah menembus batas tata surya, memasuki ruang antar bintang—tempat yang bahkan cahaya bintang pun terasa jarang. Jaraknya kini lebih dari 24 miliar kilometer dari Bumi. Untuk mengirim satu pesan, butuh lebih dari 22 jam bagi sinyalnya sampai di sini, dan 22 jam lagi untuk mendengar balasannya.

Saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi Voyager 1. Mengapung di antara gelap yang tak bertepi, hanya mendengar suara mesin sendiri, hanya melihat bintang-bintang yang tak pernah bisa didekati. Tidak ada pelukan gravitasi Bumi, tidak ada matahari yang menghangatkan wajah logamnya.

Tapi di tubuhnya, ia membawa sesuatu yang istimewa: Golden Record. Sebuah piringan emas yang merekam cerita tentang Bumi—tentang kita. Ada suara tawa manusia, detak jantung, nyanyian burung, denting piano, dan salam dalam 55 bahasa. Ada juga foto-foto: gunung, hutan, bayi yang baru lahir, pernikahan, dan pasar yang ramai. Semua itu adalah pesan kita untuk semesta, botol kecil berisi cerita yang dilemparkan ke lautan tak berujung. lautan kosmik.

Voyager 1 mungkin tidak pernah bertemu siapa pun yang akan membacanya. Ia mungkin melaju selama jutaan tahun, terus menjauh, hingga kita—manusia yang mengirimnya—sudah lama tiada. Tapi ia tetap setia membawa pesan itu, seolah berkata, “Aku berasal dari tempat yang indah. Aku punya cerita yang ingin kau dengar.”

Saya pikir, di situlah pelajaran tentang kesendirian. Kita sering takut berjalan sendiri. Kita khawatir tidak ada yang akan mengerti pesan kita, atau lebih buruk—tidak ada yang akan peduli. Kesendirian membuat waktu terasa lambat, membuat hari-hari terasa berat, dan membuat kita mempertanyakan apakah perjalanan ini ada gunanya.

Tapi Voyager 1 tidak berhenti hanya karena ia sendirian. Ia tidak membuang Golden Record-nya hanya karena tak ada yang terlihat di depan. Ia melaju terus, menembus sunyi, membawa cerita dengan penuh keyakinan, meski tak tahu apakah ada telinga yang akan mendengar.

Kadang saya membayangkan, kalau Voyager 1 bisa berbicara, ia mungkin akan berkata:
“Kesendirian ini tidak menakutkan jika kau mengingat dari mana kau berasal, dan apa yang kau bawa di dalam dirimu.”

Itu mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya juga harus berjalan sendiri. Ketika saya harus meninggalkan seseorang yang dicintai—bukan karena tidak sayang, tapi karena jalan kami tidak lagi searah. Sejak hari itu, kesepian menjadi teman setia. Ada malam-malam ketika saya merasa seperti Voyager 1: melayang di antara ruang gelap, hanya dengan cerita dan kenangan yang saya bawa sendiri.

Tapi di sisi lain, saya mulai menyadari sesuatu: kesendirian bukan hanya kehilangan, ia juga ruang. Ruang untuk mendengar gema pikiran sendiri. Ruang untuk mengingat hal-hal kecil yang dulu terlewat. Ruang untuk menyiapkan diri, siapa tahu suatu hari ada “makhluk” yang mendengar pesan kita, dan memahaminya.

Voyager 1 mengajarkan saya bahwa kita tidak selalu perlu penonton untuk membuat perjalanan ini berarti. Terkadang, makna itu ada pada keberanian untuk terus bergerak, meski langkah kita tak disorot siapa pun.

Saya suka membayangkan akhir cerita Voyager 1. Mungkin suatu hari, jutaan tahun dari sekarang, sebuah peradaban asing menemukannya. Mereka memegang Golden Record itu, mendengar suara tawa kita, melihat gambar gunung-gunung kita, dan membaca salam kita. Mungkin mereka akan tersenyum, dan berkata dalam bahasa mereka, “Kami mengerti. Kami tahu kau berasal dari tempat yang indah.”

Dan mungkin, di saat itu, semua kesunyian yang Voyager 1 lewati selama ini akan terasa sepadan.

Jadi jika suatu hari saya harus berjalan sendiri untuk waktu yang lama, saya ingin mengingatnya seperti itu. Bahwa kesendirian bukan berarti hampa, dan perjalanan tanpa teman bukan berarti sia-sia. Selama saya membawa cerita, harapan, dan siapa diri saya—seperti Voyager 1—mungkin suatu hari akan ada yang mendengarnya.

Sampai saat itu tiba, saya, anda dan kita semua akan terus melaju.