PENDIDIKAN

Demokrasi Kita Jatuh Skor, Tapi Zombie-Nya Justru Bangkit

×

Demokrasi Kita Jatuh Skor, Tapi Zombie-Nya Justru Bangkit

Sebarkan artikel ini
Launching dan bedah buku “Demokrasi Zombie” karya Ernestus Holivil berlangsung di Aula Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Mendi Project bekerja sama dengan FISIP Corner, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Administrasi Negara, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP pada Kamis (4/5/2025).
Launching dan bedah buku “Demokrasi Zombie” karya Ernestus Holivil berlangsung di Aula Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Mendi Project bekerja sama dengan FISIP Corner, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Administrasi Negara, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP pada Kamis (4/5/2025).

METRUM.ID – Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut sistem demokrasi, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.

Pada prinsipnya, demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sekaligus subjek utama dalam penentuan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun perjalanan demokrasi tidak pernah sepenuhnya linier; ia senantiasa diuji oleh praktik kekuasaan, perubahan sosial, dan dinamika politik yang terus bergerak.

Dalam satu dekade terakhir, kualitas demokrasi Indonesia justru menunjukkan tren kemunduran. Laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) 2025, sebagaimana di rangkum data kompas.id dalam terbitan (5/3/2025) mencatat bahwa Indeks Demokrasi Indonesia pada 2024 kembali turun menjadi 6,44 dari 6,53 pada 2023 dan menempatkan Indonesia pada peringkat ke-59 dari 167 negara. Penurunan ini melanjutkan tren yang terjadi sejak 2015, ketika Indonesia sempat meraih skor 7,03 sebelum merosot pada berbagai dimensi, terutama kultur politik dan kebebasan sipil. Selama hampir satu dekade, Indonesia konsisten berada dalam kategori demokrasi cacat (flawed democracy).

Di tengah tantangan tersebut, ruang-ruang intelektual menjadi penting untuk merawat nalar publik, salah satunya melalui diskusi kritis tentang keadaan demokrasi itu sendiri. Kesadaran inilah yang mendorong komunitas Mendi Project sebagai salah satu komunitas ilmiah mahasiswa kembali menggelar kegiatan bedah buku sebagai bagian dari kelas ilmiah yang rutin dilaksanakan setiap pekan ketiga setiap bulan.

Berbeda dari biasanya yang hanya diikuti anggota internal, kali ini komunitas membuka ruang dialog lebih luas dengan menghadirkan buku perdana karya Ernestus Holivil, dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana), berjudul “Demokrasi Zombie”. Acara launching dan bedah buku tersebut digelar pada 4 Desember 2025 di Aula Pascasarjana Undana, bekerja sama dengan FISIP Corner, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HPMS) Ilmu Administrasi Negara, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP.

 

Buku Demokrasi Zombie merupakan kumpulan opini Ernestus yang sebelumnya terbit di berbagai media nasional maupun lokal. Melalui buku ini, ia mengajak publik menengok kembali wajah demokrasi Indonesia yang menurutnya, bergerak tapi kehilangan jiwa—hidup, tetapi tidak sepenuhnya bernyawa.

 

Moderator: Demokrasi Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja

 

Acara dipandu oleh Gusty Rikarno, Direktur Media Cakrawala NTT, yang membuka diskusi dengan refleksi filosofis tentang pola pikir kritis. Ia menyinggung DNA berpikir: tesis–antitesis–sintesis; konstruksi–dekonstruksi–rekonstruksi; hingga rasionalisme dan kritisisme.

 

Menurut Gusty, tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak. “Jika hari ini kita diundang hadir, itu artinya ada yang keliru dalam konstruksi kita tentang demokrasi,” ujarnya. Ia menilai demokrasi Indonesia sedang “tidak berbaik-baik saja”, dan buku Ernest menjadi upaya dekonstruksi atas situasi tersebut.

 

Gusty kemudian menggambarkan relasinya dengan penulis sebagai sahabat intelektual. Ia menyebut bahwa setelah buku terbit, “Ernest sebagai sosok seakan mati—yang tersisa adalah gagasannya. Pertanyaannya: apakah gagasan itu mengganggu kita, menggugah kita, atau justru membuat kita biasa saja?”

 

Prof. David B. W. Pandie: Buku Ini Mengajak Kita Tidak Suam-Suam Kuku

 

Sebagai pembedah pertama, Prof. Dr. David B. W. Pandie, dosen senior FISIP Undana, menilai Ernest menggunakan diksi yang “menakutkan namun tepat” ketika menyebut demokrasi Indonesia sebagai zombie.

 

“Demokrasi yang idealnya humanistik, tiba-tiba dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang membunuh,” ujarnya. Menurut Prof. David, konsep demokrasi zombie relevan menggambarkan perjalanan 27 tahun demokrasi Indonesia yang makin menjauh dari harapan reformasi.

 

Ia menegaskan bahwa demokrasi kita tidak pernah mencapai tahap konsolidasi. “Demokrasi kita ini suam-suam kuku. Tidak panas, tidak dingin,” katanya. Menurutnya, demokrasi memburuk bukan hanya karena kekuasaan yang korup, tetapi juga karena publik gagal membangun gerakan berpikir yang kritis.

 

Prof. David juga menyinggung fenomena global: meningkatnya negara-negara otoriter dan melemahnya demokrasi di berbagai belahan dunia. Ia menilai Ernest berhasil menangkap realitas itu dan mengaitkannya dengan kondisi Indonesia.

 

Mengutip John Dewey, Prof. David menekankan bahwa demokrasi bukan sekadar sistem, melainkan way of life. “Kita gagal menjadikannya organisme yang hidup,” ujarnya. Meski demikian, ia memberikan catatan kritis terhadap buku ini, namun mengakui bahwa pesan utama Ernest sangat kuat: demokrasi perlu dibangunkan kembali dari tidur panjangnya.

 

Dr. William Djani: Ernest Adalah Dosen Produktif yang Menggugah

 

Pembedah kedua, Dr. William Djani, Dekan FISIP Undana, memberikan apresiasi terhadap produktivitas Ernest yang dalam waktu singkat menghasilkan buku, jurnal, dan opini di berbagai media.

 

“Dalam akademik, orang akan bertanya: berapa karya yang Anda hasilkan, bukan berapa pangkat yang Anda punya. Ernest menjawab itu dengan karyanya,” tutur William.

 

Dalam pembacaannya terhadap buku tersebut, William menilai Ernest menggambarkan demokrasi sebagai tubuh yang berjalan tanpa jiwa, digerakkan oleh naluri dan kepentingan elite. “Sebuah metafora yang gelap, tetapi tepat,” ujarnya.

 

William lalu mengajukan pertanyaan mendasar: “Sampai kapan demokrasi zombie ini dibiarkan? Bisakah ia kembali bernyawa?”

 

Ia menyoroti problem demokrasi lokal hingga nasional, termasuk “korporatisme kebijakan” yang membuat persoalan publik tak terselesaikan. Ia juga merujuk pada isu “matahari kembar” dalam kepemimpinan nasional yang disentil Ernest di bukunya.

 

Lebih lanjut, William menegaskan bahwa demokrasi hanya bisa hidup kembali melalui perlawanan warga dan reformasi institusional yang nyata. “Pemimpin adil, rakyat taat. Pemimpin tidak adil, rakyat tidak percaya,” katanya, mengutip sebuah prinsip klasik.

 

Fransiskus Sarong: Metafora Zombie Itu Garang, Tetapi Tepat

 

Sebagai pembedah berikutnya, Fransiskus Sarong mengakui awalnya ia sempat ragu menerima permintaan menjadi pembedah karena merasa “terperangkap dalam kegagalan membaca”—terutama karena penggunaan kata zombie yang menurutnya tidak lazim dalam ruang publik.

 

Sebagai jurnalis, ia terbiasa memilih diksi yang akrab bagi pembaca. Karena itu, kata “zombie” baginya terdengar garang. Tetapi justru di situlah kekuatan buku ini: metaphor ekstrem yang menggambarkan demokrasi sebagai “mayat hidup”—bergerak, tetapi tanpa nilai substantif.

 

Sarong mengapresiasi keberanian Ernest menilai demokrasi Indonesia sebagai demokrasi yang “cacat”. Ia menilai keberanian intelektual seperti ini penting di tengah ruang publik yang makin anti kritik.

 

Ia juga merespons prolog Boni Hargens yang menyebut buku ini “jenaka dan mendalam”.

“Saya setuju bahwa buku ini mendalam. Tapi tidak ada jenakanya,” katanya.

 

Sarong memberikan kritik mengenai perlunya periodisasi demokrasi Indonesia, agar pembaca dapat melihat dengan jelas titik balik kemerosotannya.

 

Sebagai alumnus Undana, ia berharap lebih banyak akademisi kampus Undana tampil di ruang publik. “Jangan sampai kepintaran hanya menjadi pajangan etalase,” tuturnya.

 

 

Dr. Marsel Robot: Dari Zombie, Wura Seki, hingga Demokrasi yang Disodomi

 

Penyampaian Dr. Marsel Robot, dosen FKIP Undana, berlangsung penuh humor, sindiran, dan kritik tajam.

Ia membuka dengan ucapan terima kasih kepada Prof. Feliks yang “Membangkitkan kampus ini dari menjadi kuburan raksasa kaum intelektual. Untuk menghidupkan kembali literasi di Undana”—sindiran halus atas kegersangan intelektual di lingkungan akademik.

 

Marsel menyebut ia datang karena merasa “dikriminalisasi secara intelektual”, sebab sebelumnya ia tidak pernah menampilkan diri sebagai penganut fanatik teori demokrasi.

Namun ia mengakui bahwa buku ini sendiri “juga zombie”—hadir dengan judul yang memaksa pembacanya menghadapi kenyataan pahit demokrasi.

 

Ia bercerita tentang kehidupannya di Tarus, Kabupaten Kupang, tempat 96% penduduknya petani serabutan. “Kami tidur jam enam, bangun jam delapan. Dalam tidur kami bermimpi negeri makmur, tapi bangun esok hari kembali pada kenyataan kondisinya tidur tidak makmur,” ujarnya—sebuah ironi tentang harapan yang tak kunjung tiba.

 

Marsel menyinggung berita mengenai indeks demokrasi NTT yang turun, lalu “disuplai dana untuk menghidupkan demokrasi”. Menurutnya, ironi ini terjadi sementara urusan dasar seperti “uang kos dan uang angkot DPR saja belum selesai dibicarakan”.

 

Ia menilai kita bukan hanya mengalami demokrasi zombie, tetapi bahkan “disodomi oleh zombie”kritik keras atas praktik kekuasaan yang menyimpang.

 

Saat membaca bagian tentang bibliosida pengetahuan dalam buku Ernest, ia menyoroti bagaimana perampasan buku dan pembungkaman intelektual merupakan penghancuran pikiran secara halus namun brutal.

 

Marsel sempat memberikan koreksi kultural terkait penggunaan metafora “zombie”. Ia menjelaskan bahwa bagi masyarakat Manggarai Timur, konsep yang mirip dengan “zombie” justru berkebalikan dan dikenal dengan istilah wura seki.

Wura seki adalah arwah yang tidak pernah “dikendurikan”tidak pernah dituntun atau disempurnakan ritusnya oleh keluarga sehingga ia terus berjalan, menghantui, dan merusak tanpa terlihat. Analogi ini, menurut Marsel, justru lebih tepat untuk menggambarkan gejala sosial dan politik yang berjalan tanpa arah dan tanpa kendali, sebagaimana kritik yang diuraikan dalam buku Demokrasi Zombie.

 

“Ini berbeda dari zombie,” ujarnya. “Wura Seki berjalan terus, mau orang tidur atau bangun.”

Baginya, Wura Seki adalah gambaran paling tepat tentang kondisi masyarakat yang kehilangan kendali moral dan arah sosial.

 

Marsel menilai demokrasi yang lahir dari kompromi nepotistik adalah bentuk “kebangkrutan demokrasi”.

Ia juga menyoroti praktik korupsi yang diterima masyarakat sebagai “berkat Tuhan” hingga Tuhan pun, kata Marsel, “menjadi bingung”. Mengutip Nietzsche, ia menyindir bahwa kebingungan panjang itu membuat “Tuhan akhirnya mati”.