METRUM.ID, Sumba Timur – Semangat gotong royong terlihat jelas di Desa Palanggai, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Cendana (Undana) turun langsung menggandeng masyarakat setempat dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk bokashi. Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan mahasiswa KKN dalam upaya mendorong kemandirian pertanian warga desa.
Bertempat di desa Palanggai, kegiatan ini dihadiri oleh warga palanggai yang antusias mengikuti setiap tahapan demonstrasi. Para mahasiswa tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan pupuk dengan bahan baku utama kotoran ternak yang melimpah di desa tersebut, seperti kotoran sapi dan kambing, dicampur dengan sekam padi serta dedaunan kering sebagai bahan tambahan.
Apa Itu Pupuk Bokashi?
Pupuk bokashi adalah pupuk organik hasil fermentasi kotoran ternak (seperti kotoran sapi, kambing, atau ayam) yang dicampur bahan tambahan seperti sekam dan dedaunan kering, dengan bantuan mikroorganisme pengurai atau larutan EM4 (Effective Microorganisms). Melalui proses fermentasi selama beberapa hari hingga beberapa minggu, kotoran ternak yang semula dianggap limbah tersebut berubah menjadi pupuk yang kaya unsur hara dan ramah lingkungan.
Keunggulan pupuk bokashi terletak pada bahan bakunya yang murah dan mudah didapat, proses pembuatannya yang relatif sederhana, serta manfaatnya yang mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya kian mahal.
Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa
Gregorius Jenudin, Ketua dari kelompok 69 KKN Sumba Timur menjelaskan bahwa program ini dipilih karena melihat potensi besar Desa Palanggai sebagai daerah peternakan dan pertanian, di mana kotoran ternak melimpah namun selama ini belum banyak dimanfaatkan secara maksimal, sementara masih banyak petani yang bergantung penuh pada pupuk kimia bersubsidi yang pasokannya kerap tidak stabil.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa kotoran ternak yang selama ini dibiarkan menumpuk sebenarnya bisa diolah jadi pupuk berkualitas, murah, dan bisa dibuat sendiri,” ujar Gregorius.
Harapan untuk Keberlanjutan Program
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada sesi sosialisasi semata, melainkan terus diterapkan secara berkelanjutan oleh warga demi mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi desa.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia akademik dan masyarakat desa mampu melahirkan solusi konkret atas persoalan sehari-hari, sekaligus mempertegas peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Editor: Vicky Dato









