PENDIDIKAN

Ketika Sampah Menjadi Jalan Menuju Ilmu

×

Ketika Sampah Menjadi Jalan Menuju Ilmu

Sebarkan artikel ini
Anak-anak dengan penuh semangat membaca buku, didampingi ibu-ibu relawan yang setia menemani mereka di Rumah Literasi Cakrawala NTT. Kegiatan literasi ini rutin dilakukan setiap hari Sabtu, pukul 15.00–17.00 WITA.
Anak-anak dengan penuh semangat membaca buku, didampingi ibu-ibu relawan yang setia menemani mereka di Rumah Literasi Cakrawala NTT. Kegiatan literasi ini rutin dilakukan setiap hari Sabtu, pukul 15.00–17.00 WITA.

METRUM.ID – Belajar membaca dengan membayar sampah adalah konsep unik yang dijalankan oleh Rumah Literasi Cakrawala NTT. Melalui cara sederhana ini, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dirasakan langsung oleh anak-anak dan masyarakat akar rumput menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Semangat tersebut sejalan dengan amanah UUD 1945 alinea keempat serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), dapat terwujud bukan hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga lewat jalur nonformal. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), cita-cita itu digagas melalui gerakan literasi dari Yayasan Media Cakrawala NTT, sebuah media independen yang berfokus pada penguatan budaya membaca dan menulis bagi guru, mahasiswa, dan masyarakat.

 

Salah satu wujud nyatanya adalah hadirnya Rumah Literasi Cakrawala NTT di Desa Noelbaki, Dusun Dendeng, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Direktur Rumah Literasi, Gusty Rikarno, mengatakan bahwa sejak dibuka sebulan lalu, taman baca ini sudah mengoleksi lebih dari 1.500 judul buku, mulai dari bacaan anak hingga literatur umum.

 

“Untuk anak-anak ada sekitar seribu judul buku bermutu, sementara untuk buku umum ada sekitar 500 judul. Koleksi ini terus bertambah, termasuk hasil kerja sama dengan Sinode GMIT yang rutin meminjamkan ratusan judul baru setiap beberapa bulan,” jelas Rikarno saat ditemui, Sabtu (30/8/2025).

 

Rumah Literasi Cakrawala tidak hanya menyediakan bacaan, tetapi juga melakukan asesmen kemampuan membaca. Anak-anak dikelompokkan sesuai levelnya: mulai dari yang belum mengenal huruf, baru bisa membaca suku kata, kalimat sederhana, hingga membaca lancar dan pemahaman.

 

Selain itu, anak-anak juga diarahkan untuk mengembangkan bakat dan minat, seperti olahraga (sepak bola, voli), seni (menari, menyanyi, menggambar), hingga berkebun. Semua kegiatan ini didampingi oleh 12 relawan yang terdiri dari ibu-ibu sekitar, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (psikologi dan bahasa Inggris), serta komunitas multikultural Universitas Muhamadiyah Kupang.

 

Keunikan Rumah Literasi ini adalah konsep “Sampahmu Tiket Baca”. Anak-anak tidak perlu membayar dengan uang, melainkan membawa botol plastik, kaleng, atau sampah anorganik lain sebagai tiket untuk membaca.

 

“Jadi satu anak cukup bawa satu botol bekas. Itu tiket mereka untuk baca. Dari sini, mereka belajar peduli kebersihan dan sekaligus mengurangi sampah di sekitar sawah dan laut,” kata Rikarno.

 

Sampah yang terkumpul tidak dibiarkan begitu saja. Rumah Literasi bekerja sama dengan komunitas Donasi Sampah untuk mendaur ulangnya. Hasil pengelolaan sampah kemudian digunakan untuk kebutuhan anak-anak, misalnya membeli bola, perlengkapan menggambar, atau sarana kegiatan lain.

 

Rikarno menegaskan bahwa program ini tidak sekadar membentuk anak gemar membaca, tetapi juga mengajarkan mereka kepedulian lingkungan.

 

“Kalau setiap desa punya satu taman bacaan dengan konsep seperti ini, kita bukan hanya melahirkan generasi gemar membaca dan menulis, tapi juga generasi yang peduli kebersihan dan perubahan iklim,” ujarnya.

 

Rumah Literasi Cakrawala yang sudah berkiprah sejak 2016 ini menaungi empat program utama: majalah pendidikan (cetak dan online), penerbitan dan percetakan, sekolah menulis Cakrawala, dan taman bacaan masyarakat. Semua itu diarahkan untuk mempersiapkan generasi emas NTT melalui budaya literasi yang terintegrasi dengan kepedulian lingkungan.