Oleh: Sandryaka Harmin
Metrum.ID_“Kuliah adalah pengangguran dengan gaya.” Ungkapan itu sering terdengar sebagai kritik terhadap kampus, tetapi sesungguhnya ia lebih tepat diarahkan pada individu yang menjalani proses pendidikan itu. Sebab kuliah, apa pun bentuk dan sistemnya, hanya menyediakan ruang. Yang menentukan apakah ruang itu melahirkan pertumbuhan atau sekadar menjadi tempat transit adalah bagaimana individu memanfaatkan kesempatan tersebut. Kampus tidak pernah menjamin kedewasaan intelektual; yang menjamin hanyalah kesediaan seseorang untuk benar-benar berpikir.
Di tengah era serba instan, kesediaan itu makin jarang ditemukan. Kita hidup pada zaman ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita mengolahnya. Setiap saat kita dijejali potongan pengetahuan, opini tanpa dasar, dan kesimpulan kilat yang sering kali lebih memikat daripada kebenaran itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, seseorang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi seharusnya memiliki semacam filter filosofis—daya kritis yang membuatnya tidak mudah tergelincir oleh kesan pertama. Tetapi banyak dari kita justru kehilangan ketahanan itu, bukan karena kampus tidak mengajarkannya, melainkan karena kita sendiri tidak melatihnya.
Secara filosofis, ini sejalan dengan kritik yang disampaikan oleh para pemikir besar. Socrates mengatakan bahwa pendidikan sejati adalah “menggugah jiwa”, bukan mengisi kepala. Heidegger menegaskan bahwa manusia modern terjebak dalam “kejatuhan” (fallenness): sibuk mengikuti arus, tetapi lupa mempertanyakan. Sementara Kant berpendapat bahwa pencerahan terjadi ketika seseorang berani menggunakan akalnya sendiri. Semua ini menunjukkan satu hal yang konsisten: pengetahuan tidak pernah tumbuh tanpa keterlibatan aktif dari diri manusia itu sendiri. Kampus bisa menyediakan dosen, perpustakaan, dan ruang diskusi, tetapi tanpa dorongan dari dalam diri, semuanya hanya menjadi dekorasi intelektual.
Budaya literasi sering kali dianggap sebagai kewajiban institusi, padahal akar persoalannya lebih dalam: literasi bukanlah kebiasaan yang bisa dipaksakan oleh lingkungan, melainkan praktik yang tumbuh dari kehendak pribadi untuk berdialog dengan pikiran sendiri. Perpustakaan tidak pernah salah ketika tidak dikunjungi; jurnal ilmiah tidak berdosa ketika tidak dibuka; ruang diskusi tidak gagal hanya karena yang hadir lebih sibuk pada gawai daripada gagasan. Yang gagal adalah individu yang memilih kenyamanan informasi instan daripada kesulitan berpikir.
Itulah paradoks generasi hari ini. Kita adalah generasi yang paling mudah mengakses pengetahuan, tetapi belum tentu paling kuat dalam mengolahnya. Kita paling kaya data, tetapi tidak selalu kaya makna. Kampus sering menjadi kambing hitam ketika lulusan tampil dangkal, padahal kampus hanyalah latar. Tokoh utamanya tetap individu itu sendiri. Ia bisa memilih menjadi mahasiswa yang sekadar menjalani prosedur—menghadiri kelas, mengumpulkan tugas, lalu lulus—atau ia bisa memilih menjadi pencari yang sungguh-sungguh menggali dunia.
Pada akhirnya, kuliah yang bermakna bukan ditentukan oleh struktur kampus, melainkan oleh kesediaan individu untuk mengalami transformasi. Gelar hanya simbol; proses berpikir adalah hakikatnya. Jika seseorang enggan membaca lebih dalam, malas mempertanyakan, dan lebih nyaman menerima informasi mentah, maka pendidikan tinggi memang hanya menjadi gaya hidup yang mahal. Tetapi bila ia menggunakan kampus sebagai ruang mengasah diri—melatih nalar, memperluas wawasan, dan membentuk cara pandang—maka kuliah menjadi daya yang memampukan, bukan sekadar gaya yang memoles penampilan. Dengan demikian, persoalan ini bukan tentang kegagalan kampus, melainkan tentang keputusan personal: apakah seseorang memilih menjadi manusia yang berpikir atau hanya penumpang yang lewat dalam sistem pendidikan. Kampus menawarkan jalan, tetapi individu yang menentukan apakah ia berjalan atau hanya berdiri dengan gaya.












