WARTA

Tradisi Silaturahmi dan Prasmanan Warnai Idul Fitri di Pasir Kawao

×

Tradisi Silaturahmi dan Prasmanan Warnai Idul Fitri di Pasir Kawao

Sebarkan artikel ini

GARUT – Masyarakat di Pasir Kawao, Kabupaten Garut, melaksanakan tradisi silaturahmi dan prasmanan dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Fitri (21/3). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh warga yang mayoritas masih memiliki hubungan kekerabatan yang erat.

Jika kita menilik lebih dalam ke dalam sosiologi masyarakatnya, Kampung Pasir Kawao menyimpan sebuah fakta silsilah yang sangat unik dan jarang ditemukan di tempat lain. Hampir seluruh warga yang mendiami dan memadati kampung ini sejatinya merupakan bagian dari satu ikatan keluarga besar yang sama. Dari sekian banyak rumah yang berjejer, tercatat hanya ada satu Kartu Keluarga (KK) saja yang statusnya berada di luar hubungan kekerabatan besar Pasir Kawao. 

Faktanya, cikal bakal dan terciptanya permukiman di Kampung Pasir Kawao ini bermula dari sepasang suami istri pada masa lampau, yaitu Kiai Haji Fadil dengan Hajah Aminah (putri dari seorang tokoh agama terpandang asal Sukabumi, Kiai Haji Rafii). Dari keturunan sepasang tokoh inilah, generasi demi generasi lahir, tumbuh, menetap, hingga akhirnya membentuk sebuah komunitas perkampungan yang utuh. Hubungan kekerabatan yang sangat erat ini membuat atmosfer Lebaran di Pasir Kawao memiliki ikatan emosional yang jauh lebih intens dibandingkan dengan wilayah perkotaan atau pedesaan pada umumnya.

Rangkaian perayaan dimulai sejak pagi hari. Usai kegiatan shalat Ied di masjid, kegiatan selanjutnya adalah mushafahah kegiatan bersalam-salaman atau halal bihalal warga yang shalat Ied di masjid. Setelah prosesi mushafahah yang sangat emosi itu selesai, agenda yang paling dinanti-nantikan pun dimulai, makan bersama secara prasmanan di halaman masjid. Tradisi makan besar di ruang terbuka ini bukanlah agenda dadakan yang baru lahir satu atau dua tahun belakangan. “Kegiatan prasmanan usai shalat Idul Fitri ini telah dilaksanakan sejak tahun 2004” ucap Pak Haji Deden, salah satu ustadz dan tokoh masyarakat yang dituakan sekaligus dihormati di Pasir Kawao.

Hal yang paling mengagumkan dari tradisi prasmanan ini adalah sistem pengelolaannya yang mengedepankan nilai keswadayaan murni. Seluruh hidangan yang tersaji di atas meja prasmanan tidak dibiayai oleh sponsor eksternal atau anggaran formal, melainkan murni dari uang yang dikumpulkan secara sukarela dan ikhlas oleh warga setempat. Setiap warga menyumbang sesuai dengan kemampuan finansial mereka masing-masing tanpa ada paksaan, batasan minimal, ataupun rasa gengsi.

Tidak ada makanan khusus yang disajikan, tetapi kebersamaan yang membuat kegiatan ini terus diabadikan. Masakan yang disajikan dibuat langsung secara bersama-sama oleh ibu-ibu yang ada di Pasir Kawao. Mereka berkumpul di dapur rumah Pak Haji Deden. 

Lalu, para warga pulang ke rumah masing-masing dan melakukan sungkeman. Setelah melakukan sungkeman dan berfoto ria bersama keluarga, masyarakat saling mengunjungi dari satu rumah ke rumah yang lain sebagai bentuk mempererat tali persaudaraan.

Tradisi ini menjadi bagian dari budaya yang terus dipertahankan oleh warga Pasir Kawao sebagai upaya menjaga kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial di lingkungan mereka. Selain itu, kegiatan tersebut juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan kekeluargaan yang masih terjaga dengan baik di tengah banyaknya budaya yang mulai luntur saat ini.